Senin, 28 November 2011

Saya Dakwah Ilmy dan Profesionalisme


Bada basmallah, shalawat dan tahmid…
Ketika hari senja, ketika berada di kampus Pertanian UGM, ada SMS tentang sebuah amanah.. yah, dialah dakwah ilmy. Dan antara saya, dakwah ilmy serta profesionalitas, ada banyak hal yang perlu diutarakan, perlu dijabarkan, agar semuanya dapat berjalan sinergis, produktif dan sukses.
Menakar Profesionalitas : Aku dan Dakwah Ilmy?
Sepengetahuan saya tentang konsep KPK (Kompetensi,Profesionalisme,Kontribusi), maka antara ‘’aku dan dakwah ilmy” seharusnya tidak ada masalah sama sekali. Aku disini yang berperan sebagai aktivis dakwah kampus yang memang concern pada dakwah ilmy, seharusnya dong dan ngeh tentang konsep KPK sebagai Grand Theme DKC (red. Dakwah ilmy)UGM menggantikan Five Function. Dan konsep KPK itu memang dilatar belakangi oleh aktifitas lembaga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang sedang on fire. Harapannya sederhana, dengan KPK yang beda arti dan makna, aktifitas DKC di UGM pun dapat terus onfire. Berawal dari kompetensi, yaitu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang kader, baik kompetensi umum seperti soft skill maupun kompetensi yang sesuai dengan disiplin ilmunya. Yah, dengan bermodalkan kompetensi itulah seorang kader dapat berkarya dan berjasa bagi umat. Tanpa kompetensi, apa yang dapat dilakukan, dan kompetensi itu memang harus diusahakan, alah bisa karena biasa, itulah rumus sederhana untuk memiliki sebuah kompetensi.
Point kedua adalah profesionalisme. Pasca kompetensi terpenuhi, maka hal kedua yang harus dimiliki seorang kader adalah profesionalisme. Bekerja tepat pada waktunya, sesuai dengan target perencanaan, sempurna dan tanpa kesalahan, itulah professional. Dan profesionalisme jelas baru dapat terpenuhi setelah kompetensi itu terpenuhi. Kader yang professional dapat didefinisikan pula sebagai kader yang amanah. Dan bukankah hasil yang sempurna berawal dari proses yang sempurna pula, dikerjakan dengan amanah dan professional.
Kontribusi. Point terakhir inilah yang menjadi parameter akhir apakah kader itu telah tertarbiyah dengan baik atau belum. Dan tidak akan ada kontribusi tanpa diawali dengan pemenuhan kompetensi dan profesionalisme dalam beramal. Yah, bukankah umat membutuhkan kontribusi nyata kita. Bukan hanya janji dan wacana. Bukankah manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya, memiliki kontribusi bagi semua.
Konsep KPK (Kompetensi, Profesionalisme, Kontribusi) inilah yang harus dipahami semua. Agar dakwah ilmy dapat berdamai dengan aku. Yah, inilah cara untuk menakar profesionalitas, antara aku dan dakwah ilmy. Itulah sebabnya pemahaman (al fahmu) menjadi pondasi awal sebelum ikhlas dan amal, bahkan jauh sebelum ukhuwah dan ke-tsiqoh-an.
My Dream and Idea : an epilogue
Impian, cita-cita, semangat dan ambisi tentang dakwah akademis di UGM, tentang DKC, tentu masih tetap ada. Yah, idealita saya masih tetap sama… kita mampu mencerdaskan orang shaleh dan menshalehkan orang cerdas. Memberikan kebermanfaatan atas ilmu yang kita miliki, menjadikan UGM sebagai kampus yang seimbang antara imtaq dan iptek. Saya tidak bisa menjelaskannya lebih rijit lagi, sulit.. semoga ukhuwah ini tetap terjaga, semoga amalan kita ini berbuah surga-Nya dan semoga ilmu kita bermanfaat dunia dan akhirat, menjadi pahala yang tak akan terputus.. wallahu’alam.
“Ya Allah, ketika saya baru mengenal indahnya Islam, ketika saya mulai menyadari makna hidup… Engkau mengambil kembali nikmat sehat saya… Saya berharap esok pagi semuanya kembali… Semoga esok saya masih diberi kesempatan, masih diberi kekuatan untuk bisa berpuasa, masih diberi kesempatan untuk beramal dan berbuat baik, semoga”  Muslim Top Appartment, 1 Maret 2007“Be Proffesional…”Ketua Umum KAB   Panji Arohman

0 komentar:

Posting Komentar